← Kembali ke Daftar

PENDIDIKAN (SEKOLAH) TIDAK PERNAH NETRAL - KOPONG BUNGA LAMAWURAN

Ditulis oleh Kopong Bunga Lamawuran pada 12 Oct 2025, 03:15

Gambar esai

PENDIDIKAN (SEKOLAH) TIDAK PERNAH NETRAL


Catatan singkat Kopong Bunga Lamawuran


 


Dalam sejarah umat manusia, bersekolah adalah tradisi yang masih baru. Sekolah di Indonesia ini dibawa oleh bangsa penjajah, pertama kali oleh Portugis, lalu dilanjutkan oleh penjajah lainnya. Kita mungkin saja berpikir bahwa sekolah adalah ruang yang aman dan netral, yang tujuannya adalah memanusiakan anak-anak terkasih kita. Namun hal itu hanyalah cerita, atau fiksi, yang kita percayai. Dalam praktiknya, sekolah bukanlah ruang yang aman dan netral. Sekolah adalah ruang pertempuran. Pertempuran oleh siapa dan memperebutkan apa? Mari kita lihat sepintas.


Portugis mendirikan sekolah Katolik pertama di Maluku pada tahun 1536. Tujuannya adalah untuk menyebarluaskan agama Katolik. Kita harus mencatat tokoh yang jasanya cukup besar dalam perkembangan sekolah Katolik, yaitu St. Fransiskus Xaverius. Anak-anak pribumi Maluku yang dinilai pintar akan dibawa oleh St. Fransiskus Xaverius untuk melanjutkan sekolahnya di Goa (India). Jadi, tujuan pendirian sekolah oleh Portugis adalah untuk menyebarluaskan agama, bukan untuk membuat kritis atau membawa kesadaran bagi rakyat Indonesia. Ini adalah contoh dari apa yang disebut sebagai wacana kolonial. Portugis datang dengan sebuah misi yang disebut sebagai misi pemberadaban. Maksudnya, sekolah, terutama agama, datang untuk memberadabkan orang-orang Timur yang tidak beradab. Dan maksud dari wacana kolonial ini adalah bahwa segala sesuatu yang baik itu seolah-olah berasal dari Barat.


Setelah Portugis, perkembangan sekolah dilanjutkan oleh Belanda. Tujuannya untuk menyebarluaskan agama. Tetapi, Belanda menjadikan sekolah juga sebagai tempat untuk menciptakan tenaga kerja murah-meriah. Pada waktu itu, mereka mendirikan banyak pabrik. Mereka membutuhkan tenaga kerja murah yang bisa mereka pekerjakan, baik di kantor-kantor maupun pabrik-pabrik itu. Kalau mereka mendatangkan pekerja dari negara mereka, biayanya pasti lebih mahal. Supaya lebih mudah, mereka mengajar para pribumi agar bisa membantu pabrik-pabrik dan pemerintahan kolonial mereka. Sekali lagi, sekolah adalah alat bagi Belanda untuk menciptakan tenaga kerja murah, bukan untuk menciptakan manusia Indonesia yang kritis dan berkesadaran.


Lalu Jepang. Bangsa penjajah satu ini menjajahnya tidak terlalu lama, tetapi dampaknya masih kita rasakan sampai sekarang. Merekalah yang menyetarakan lama bersekolah, yaitu SD menjadi 6 tahun dan SMP menjadi 3 tahun. Karena mereka jugalah, semua rakyat  bisa bersekolah tanpa pandang status sosial. Pada zaman Belanda, jangan harap seorang rakyat jelata miskin papa bisa satu sekolah dengan anak bupati. Dan, Jepang menjadikan sekolah sebagai alat propaganda, untuk menyukseskan perang Asia Timur Raya.


Lalu setelah kemerdekaan, sekolah adalah alat bagi sistem kapitalisme. Seluruh tujuan dan infrastruktur pendidikan dikerahkan untuk menyokong sistem ini, yaitu untuk menyuplai pasar. Manusia akhirnya disejajarkan dengan uang, mesin, mur, ban, dan lain-lain. Istilah yang digunakan pemerintah adalah Modal Manusia.


Jadi, dalam pendidikan formal ini, tidak ada ruang yang netral. Manusia dididik bukan untuk menjadi manusia yang utuh, yang memahami kehidupannya, tetapi hanya sebagai alat dalam menyokong sebuah ide, ideologi, sistem, dan lain-lain. Pendidikan dengan sendirinya merendahkan martabat manusia, makhluk yang diyakini sebagai gambar dan rupa Allah.