Ditulis oleh Kopong Bunga Lamawuran pada 08 Oct 2025, 04:07
Oleh: Kopong Bunga Lamawuran
Sebenarnya, tidak ada yang paling penting dalam menulis. Jika Anda membaca tulisan ini karena berharap hanya ada satu hal paling penting dalam menulis, maka kami semua akan mengucapkan, “Selamat, Anda tertipu!” Tapi, Anda tidak boleh kecewa, atau melempar gelas ke arah jendela. Buatlah diri sesantai mungkin, dan bacalah tulisan ini sampai habis.
Semua tahapan⸺dari membaca, berimajinasi, observasi, menulis, mengedit, dan lain-lain⸺sama penting. Jika kita mengatakan bahwa satu-satunya hal paling penting dalam menulis adalah aktivitas menulis, maka kita telah sangat keliru. Tanpa membaca, kita mungkin saja bisa menulis, tapi itu paksa diri, kalau tidak dibilang sebagai sebuah upaya bunuh diri. Boleh dicoba: Mintalah seorang guru menulis sebuah artikel ilmiah populer tentang apa saja. Jika guru kita ini belum pernah membaca artikel, maka kemungkinan besar lari keliling lapangan Oepoi sebanyak sepuluh kali lebih mudah baginya daripada menghasilkan sebuah artikel. Persoalannya bukan karena sang guru kita ini pintar atau bodoh! Tapi karena tidak ada informasi yang terekam dalam kepalanya tentang sebuah artikel. Jikapun beliau kemudian bisa menulis, kemungkinan besar yang ditulis bukanlah artikel!
Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa imajinasi kalah penting daripada aktivitas membaca atau menulis. Tanpa imajinasi, kita tidak akan bisa menulis. Perlu ditekankan (harap ditekan dengan lembut), ketika membicarakan imajinasi, saya tidak bermaksud berbicara tentang karya sastra, seni rupa, patung-patung, atau para arsitek. Kemampuan berimajinasi tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang bekerja dalam bidang-bidang itu. Sewaktu menyinggung imajinasi, yang saya maksud adalah sebuah daya atau kekuatan mental yang dimiliki oleh semua manusia.
Dalam menulis ataupun berbicara, imajinasi sering disebut sebagai jiwa dari bahasa. Tanpa imajinasi, kita tidak akan bisa memahami konsep dari sesuatu. For example. Sewaktu kita mengatakan ‘kursi’, maka pikiran kita akan menghadirkan sebuah gambar ‘tempat duduk yang berkaki dan bersandaran’. Atau sewaktu saya menyebut mobil, maka pikiranmu akan menghadirkan sebuah gambar ‘kendaraan darat yang digerakan oleh tenaga mesin, beroda empat atau lebih (selalu genap), biasanya menggunakan bahan bakar minyak untuk menghidupkan mesinnya’. Kekuatan untuk menghadirkan gambar itu adalah imajinasi, bukan persepsi, intuisi, dan lain sebagainya. Jadi, kini makin jelas. Kita menggunakan imajinasi untuk memahami manusia, bunga, matahari, pena, jantung, hati, mawar, kaki, dan seterusnya. Tanpa imajinasi, sulit untuk memahami konsep dari ‘mangga’.
Dalam dunia kepenulisan, terlebih dalam dunia sastra, imajinasi dipakai untuk menciptakan sebuah dunia baru, yang kemudian terwujud dalam bentuk sebuah novel ataupun karya lainnya. Tentu saja tidak semua kata-kata yang tertulis dalam sebuah karya adalah hasil dari imajinasi, tapi imajinasi berperan penting dalam aktivitas menghasilkan sebuah karya.
Dari mana datangnya imajinasi? Dari pikiran. Bagaimana mengembangkan imajinasi? Imajinasi bisa dikembangkan dengan membaca, dan (sayangnya) menonton. Dengan menonton film Kuch Kuch Hota Hai, seseorang bisa saja mengimajinasikan kisah cinta segitiganya yang amburadul. Dengan menonton film Sexi Killers, seseorang bisa menulis artikel tentang lingkungan yang semakin rusak dari tahun ke tahun. Atau, mari kita bicara tentang fakta bahwa Prabowo Subianto akhirnya menerima tawaran dari Presiden Jokowi untuk menjadi Menteri Pertahanan Indonesia. Fakta ini tentu membuat orang bertanya-tanya, sebagian lagi mungkin berkecewa hati. Tapi menurut pengakuan beliau, keputusan ini adalah akumulasi dari apa yang telah dia baca, tentang sebuah kisah perjalanan Hideyoshi yang termuat dalam novel Taiko karya Eiji Yoshikawa.
Jadi, apa yang lebih penting dalam menulis? Semuanya sama penting. Bahkan sampai pada tahapan menyunting. Sebuah tulisan atau karya yang baik seharusnya diedit berkali-kali. Karena itu, biasanya seorang penulis membutuhkan beberapa waktu lamanya untuk mengedit tulisannya sebelum dipublikasikan.
Dia juga sebaiknya meminta kritik dan saran dari seseorang mengenai tulisannya itu. Dalam proses menulis, selain membaca, berimajinasi, menulis dan mengedit, tentu saja masih ada hal-hal lain yang dilakukan, seperti observasi dan meneliti. Semua hal itu sama pentingnya, dan akan saling melengkapi untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik.
#esai #penerbitkoda #kopongbungalamawuran