Ditulis oleh Kopong Bunga Lamawuran pada 05 Oct 2025, 00:25
Lima Kata Kunci dalam Menulis Kreatif Sastra
1. Imajinasi. Imajinasi adalah daya untuk membentuk gambaran (imaji) atau konsep-konsep mental yang tidak secara langsung didapatkan dari sensasi atau penginderaan. Imajinasi bukanlah sebuah kekuatan yang hanya dimiliki oleh orang-orang superkreatif. Imajinasi dimiliki oleh semua manusia. Imajinasi bisa digunakan untuk membantu kita dalam hidup yang fana ini. Contoh: Seorang pengusaha berencana membangun usaha kain tenun. Dalam imajinasinya, dia seharusnya sudah bisa membayangkan akan menjadi seperti apa usahannya itu lima atau sepuluh tahun ke depan. Seorang pembicara harus sudah bisa membayangkan hal-hal apa saja yang harus disampaikannya sewaktu berbicara di depan umum. Seorang pembuat patung, sudah mengimajinasikan bentuk patung seperti apa dalam kepalanya sebelum dia mulai bekerja. Sebuah gedung ada, karena sebelumnya telah dibangun oleh seseorang terlebih dahulu di dalam kepalanya. Kerusakan-kerusakan alam yang terjadi di muka bumi ini tentu saja berawal dari imajinasi seseorang tentang apapun yang harus mengorbankan alam. Dalam proses kreatif menulis karya sastra pun, imajinasi menjadi daya yang sangat berperan penting. Tanpa imajinasi, tidak ada novel. Kita tidak akan membaca kisah-kisah indah jika kisah itu tidak diimajinasikan sebelumnya oleh pengarangnya. Jadi, berlatihlah menggunakan imajinasimu. Kekuatan ini diberikan Tuhan untuk membantu kita dalam hidup. Jika kau tidak belajar menggunakannya, maka jangan salahkan Tuhan apalagi nenek moyangmu.
Jika semua orang memiliki imajinasi (sebagai sebuah daya dalam menulis), apakah dia akan menjadi penulis? Jawabannya iya, jika dia melanjutkan dengan aktivitas berikut, yaitu:
2. Membaca. Pertanyaan: Saya ingin menulis, tapi mengapa saya diminta untuk membaca terlebih dahulu? Dahulu sekali, ada seorang sahabat yang memberikan pernyataan ini kepada saya, “Saya rasa kita tidak harus membaca terlebih dahulu untuk bisa menulis. Kita mampu menulis tanpa harus membaca!” Betul, kita bisa menulis tanpa harus membaca. Tapi, itu adalah satu bentuk penyiksaan diri paling keji yang bisa dilakukan seseorang kepada dirinya sendiri. Kita selalu membutuhkan bacaan untuk menambah perbendaharaan kata dalam kepala kita. Jika kita tidak membaca, dan mengandalkan imajiasi semata dalam menulis, maka ada ketidakcocokan di situ. Pertama, ketika kita berimajinasi, kita menggunakan gambar, bukan kata-kata. Kedua, ketika kita menulis, kita menggunakan kata-kata, bukan gambar-gambar. Ketika kita menulis, kita harus menerjemahkan gambar-gambar itu ke dalam bentuk kata-kata. Dan agar bisa memiliki perbendaharaan kata yang cukup, kita harus membaca, bukan tidur atau menonton. Jadi membaca adalah aktivitas yang sangat penting dalam proses kreatif menulis apa saja, entah itu sastra ataupun jenis tulisan lainnya. Kita juga bisa melatih mengembangkan daya imajinasi kita dengan membaca. Karena sewaktu membaca, semua hal yang terbaca akan terekam, baik di pikiran sadar maupun pikiran bawah sadar. Dan bacaan itu akan menambah daya imajinasi kita tentang sesuatu. Bacaan-bacaan yang disarankan adalah jenis bacaan yang sesuai dengan tulisan yang ingin kita tulis. Jika ingin menulis esai, bacalah sebanyak mungkin tulisan esai. Novel, bacalah sebanyak mungkin novel. Ingin menulis buku, bacalah buku-buku, dan pelajari semua hal tentang buku itu. dan lain sebagainya, keles.
Pertanyaan: JIka saya sudah memiliki imajinasi dan rajin membaca karya sastra, apakah saya bisa menghasilkan karya sastra? Jawabannya iya, jika saya melanjutkan dengan aktivitas berikut, yaitu:
3. Berimajinasi. Yang saya maksudkan dengan tahapan ini adalah berimajinasi secara kreatif. ‘Saya takut ditolak oleh seorang perempuan jika saya mengungkapkan perasaan saya’ adalah jenis imajinasi yang tidak kreatif. Ini adalah jenis imajinasi yang bertujuan untuk menurunkan imun tubuh. Ketika kita berimajinasi secara kreatif, maka kita menggunakan daya mental itu untuk membantu kita.
Dalam karya sastra, kita gunakan imajinasi untuk membentuk sebuah dunia baru, dengan segala pandangan hidup yang kita miliki, dengan segala detail plotnya, penokohan, tokoh, dan lain sebagainya. Imajinasi kreatif ini bisa dikembangkan dengan membaca buku-buku berkualitas, atau dalam sastra, kita membaca karya sastra, bukan karya populer. Imajinasi juga bisa dikembangkan dengan menonton film-film, mendengarkan lagu-lagu, berdiskusi dengan orang, terlibat dalam kehidupan sosial, dan lain-lain. Jika kita sudah memiliki imajinasi, membaca, dan berimajinasi kreatif, apakah kita bisa menjadi penulis atau bisa menghasilkan sebuah karya? Jawabannya iya, jika kita lanjut ke aktivitas berikutnya, yaitu:
4. Menulis. Sebelum mahir menulis, kita harus belajar menulis. Ada cara-cara yang lebih mudah, dan jarang disadari, yaitu belajar menulis dengan melakukan peniruan. Segala proses belajar pada awal mulanya dilakukan dengan cara meniru. Untuk cerpen: Ambillah sebuah karya cerpen, bacalah, dan tirulah seluruh isinya. Jika kamu cukup kreatif, kamu bisa mengubah nama-nama tokoh dengan nama tokohmu sendiri. Atau, ubahlah sedikit alur dari kisah yang kamu tiru. Jika kamu bisa melakukan ini, maka kamu juga akan bisa menuliskan sebuah kisah atau cerita berdasarkan imajinasimu sendiri. Pada akhirnya, kamu akan menemukan karaktermu sendiri dalam menulis. Secara umum, para penulis membagi tahapan menulis ini menjadi dua, yaitu menulis dengan perasaan dan menulis dengan logika. Pertama, tulislah semua hal yang kamu rasakan, tidak peduli apakah itu masuk akal atau tidak, menyenangkan atau tidak. Tulislah semuanya. Kedua:
5. Mengedit. Sebuah tulisan yang baik harus diedit berulang-ulang. Kita membaca semua kata yang kita tulis, semua kalimat, paragraf, logika, dan lain sebagainya. Ubahlah sebanyak mungkin tulisan jika masih buruk. Mintalah juga kepada seseorang untuk memberikan kritik dan saran atas tulisanmu itu. Dalam tahapan ini, sebagian penulis biasanya membiarkan tulisannya itu tidak tersentuh selama beberapa saat. Ada jedah antara menulis dengan perasaan dan dengan logika. Dalam rentang waktu itu, dia bisa saja menemukan ide-ide baru untuk ditambahkan pada ceritanya.
Tentu saja masih ada hal-hal lain yang harus dilakukan seorang pengarang, seperti merenung, observasi, liburan, ataupun hal lain. Tapi saya kira lima kata kunci di atas sangat membantu kita dalam melihat proses kreatif seorang penulis karya sastra.