← Kembali ke Daftar

Imajinasi, Bonus Demografi, dan Pengangguran - Kopong Bunga Lamawuran

Ditulis oleh Kopong Bunga Lamawuran pada 04 Oct 2025, 23:33

Imajinasi, Bonus Demografi, dan Pengangguran


Oleh: Kopong Bunga Lamawuran


Saat saya singgung imajinasi, sebagian orang mengira saya sedang bicara tentang novel-novel pop yang selalu marak di Indonesia Raya tercinta ini. Mungkin juga mengira saya akan bicara tentang lukisan-lukisan indah di dinding-dinding gereja. Tentu saja imajinasi berperan besar dalam proses kreatif semacam itu. Namun dalam konteks ini, saya tidak mengaitkan imajinasi dengan novel ataupun lukisan semata.


Sesuai judul tulisan, saya akan membahas apakah ada hubungan antara imajinasi, bonus demografi dan pengangguran yang angkanya tidak pasti dari waktu ke waktu ini. juga, seberapa penting imajinasi sebagai sebuah kekuatan mental (yang tidak diajarkan secara terstruktur dalam pendidikan formal) memberi andil bagi pengurangan angka pengangguran dan menjadikan pemuda-pemudi kita sebagai makhluk yang selalu progresif. 


Hakikat dari pendidikan adalah berupaya menemukan ‘siapa seseorang’ dan membuat seorang manusia memahami ‘siapa itu manusia’. Selama ini, pendidikan kita sudah terlalu jauh menyimpang dari jalurnya, sehingga dominan, seorang sarjana tidak mengenal siapa dirinya dan apa itu manusia. Ini hipotesis awal.


Untuk mengukur keberhasilan tujuan pendidikan formal ini, saya punya satu contoh kasus yang bagus. Beberapa orang yang saya kenal baik, saat ini telah mendapatkan pekerjaan yang baik, sesuai bakatnya, dan bayaran dari pekerjaannya itu cukup besar. Mereka bukanlah lulusan sarjana, dan pendidikan paling tinggi mereka adalah sekolah menengah atas. Beberapa hanya tamat sekolah menengah pertama. Beberapa lainnya memang tidak menempuh pendidikan sampai tamat sekolah menengah atas. Bakat mereka di bidang musik, dan bayaran yang mereka peroleh untuk sekali tampil di sebuah kafe pun cukup tinggi. Beberapa lagi orang yang saya kenal adalah para sarjana, yang telah menempuh pendidikan formal sampai sarjana, dan saat ini mereka belum bekerja. Mereka sedang menunggu pembukaan seleksi CPSN atau lowongan pekerjaan lain, dan selama waktu itu, mereka menunggu. Atau dalam istilah yang lebih keren: menganggur.


Saya memiliki dua hipotesis. Pertama, orang-orang yang berhasil dalam bidang musik itu berhasil karena mereka tidak melanjutkan pendidikan formalnya. Mereka menemukan ‘siapa diri mereka’ sebelum sekolah menghancurkan mereka. Jalan terbaik adalah keluar dari sekolah formal, dan terus mengembangkan bakatnya. Jika mereka tetap melanjutkan sekolahnya, dan dengan sistem pendidikan dan metode pengajaran kita yang sangat seragam ini, kemungkinan besar bakat yang mereka miliki tersebut tidak berkembang dengan baik. Pertama karena tuntutan pendidikan, kedua karena lingkungan pendidikan yang bisa saja tidak mendukung bakat mereka. Untuk pekerjaan yang mereka geluti saat ini, dalam semalam mereka bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 300.000,00. Pendapatan ini fluktuatif, tapi mereka selalu mendapatkan bayaran setiap hari. Yang paling mengesankan buat saya ialah mereka telah menemukan ‘siapa diri mereka’ dan keluar dari jalur pendidikan formal. Kedua, para sarjana kita ini bisa menganggur karena imbas dari pendidikan formal kita yang salah arah.  Sampai tamat kuliah, mereka tidak bisa menemukan siapa diri mereka. Karena tidak bisa menemukan siapa diri mereka, sekaligus tidak memahami siapa itu manusia, mereka harus menunggu lowongan pekerjaan untuk dilamar. Kemudian, jikapun mereka bekerja, biasanya mereka akan bekerja dalam kondisi penuh siksaan, karena pekerjaan itu tidak sesuai dengan minat dan bakatnya. Selalu saja ada hal dalam diri mereka yang tidak terpenuhi, dan bekerja dalam kondisi semacam ini selalu saja menyiksa batin.


Dampak dari hipotesis kedua yang dikemukakan ini sangat besar pengaruhnya terhadap angka pengangguran. Jika seseorang tidak bisa menemukan siapa dirinya, maka dia akan selalu bergantung kepada situasi yang ada di sekelilingnya. Dia akan selalu bergantung kepada pemerintah, perusahan, ataupun orang-orang sekelilingnya. Kondisi ini tentu saja tidak menyenangkan. Jika dia, dengan beberapa upaya yang dilakukan, mampu menemukan apa bakatnya dan siapa dirinya, maka dia tidak akan menganggur. Ukuran menganggur atau tidak menganggur dalam hal ini bukanlah seberapa banyaknya uang yang dia hasilkan dalam sebulan, tapi apakah dia dari hari ke hari bisa mengembangkan segala potensi yang ada pada dirinya. Mengapa orang-orang yang menganggur ini tidak mau mengembangkan segala potensi yang ada pada dirinya? Karena dia tidak tahu siapa dirinya. Mengapa dia tidak tahu? Sayangnya, karena dia bersekolah. Mengapa? Karena sistem pendidikan kita sudah menyimpang jauh. Tentu banyak orang yang orang berpendidikan formal yang tidak setuju dengan pendapat ini. Tapi saya beri satu contoh paling kongkrit. Mengapa kita belajar tentang komputer, pesawat, mobil, sepeda, dan sebagainya, tapi tidak pernah belajar tentang dengan kekuatan mental apa yang digunakan untuk menghasilkan semua barang itu? Apa yang saya maksudkan ini adalah imajinasi, daya mental yang tidak pernah diajarkan secara terstruktur dalam sistem pendidikan kita.


Secara umum istilah imajinasi dipahami sebagai daya untuk membentuk gambaran (imaji) atau konsep-konsep mental yang tidak secara langsung didapatkan dari sensasi (Tedjoworo, 2001:21). Daya mental ini dimiliki oleh semua manusia. Sepanjang hidupnya manusia selalu menggunakannya, baik untuk membantu dirinya maupun untuk melawan dirinya. Daya mental ini tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang superkreatif, tapi sekali lagi, dimiliki oleh semua manusia. Dan, hanya manusia yang memiliki daya ini. Pohon tidak memiliki imajinasi. Atau pernahkah kamu mengetahui bahwa rupanya ada seekor ikan telah berkhayal tentang lautan?


Konsep imajinasi ini dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan. Dalam tradisi Ibrani, imajinasi dipahami sebagai kekuatan yang diambil atau dicuri manusia dari Tuhan. Dikisahkan bahwa Adam dan Hawa memakan buah terlarang yang terletak di tengah taman Eden. Buah itulah yang kemudian dimaknai sebagai imajinasi, karena setelah memakan buah tersebut, mereka menjadi sadar bahwa mereka telanjang. Dengan memakan buah itu, kedua manusia ini mampu membedakan antara masa lalu dan masa depan mereka. Dalam tradisi yang lain, imajinasi dilambangkan sebagai obor yang dicuri dari dewa-dewa, dan obor tersebut diserahkan kepada manusia. Imajinasi menjadi penerang untuk manusia, dan dengan obor itu, manusia bisa menciptakan terang.


Dalam praktek pendidikan kita, konsep imajinasi ini dikenal dalam makna yang sangat peyoratif. Ada penurunan nilai rasa yang dikenakan kepada imajinasi, sehingga aktivitas berimajinasi atau berkhayal dianggap sebagai aktivitas yang tidak membantu, mengawang, dan tidak menghasilkan. Anda boleh tidak percaya. Tapi ungkapan-ungkapan seperti ‘Jangan berkhayal’, ‘Tidak boleh berimajinasi berlebihan’, ‘realistislah’, dan berbagai macam istilah lain tercipta dalam proses pendidikan formal kita. Dengan berbagai cara, para guru berusaha untuk melarang para siswa berimajinasi, walaupun mereka ingin sekali sang murid itu kreatif. Inilah paradoksnya. Imajinsi dipahami sebagai sebuah kekuatan yang membuat seorang anak putus hubungan dengan realitasnya. Para guru zaman sekarang bisa saja mengelak dengan fakta ini, tapi coba lihatlah beberapa tahun sebelumnya. Jika seorang anak sedang berkhayal atau berimajinasi, bisa saja seorang guru akan mengetuk kepalanya dengan mistar plastik sambil berseru, “Jangan berkhayal, setan!”


Kita bertanya, “Mengapa seorang anak tidak boleh berkhayal? Bukankah untuk menjadi presiden (cita-cita), seorang harus berimajinasi terlebih dahulu? Atau, bukankah untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, seseorang harus berkhayal terlebih dahulu?”


Jawabannya: karena sistem pendidikan kita terlalu mendewakan logika, sehingga semua hal yang tidak bisa dipecahkan secara logika, dianggap tidak baik. Khayalan, dengan berbagai alasan, dianggap tidak masuk akal, sehingga dilarang atau tidak dianjurkan.


Atau, mari kita cek sejenak bagaimana seorang anak desa dididik di dalam lingkungan keluarganya. Pengajaran yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar oleh orang tua dan lingkungan kepada seorang anak akan sangat menentukan jalan hidup seorang anak. Saya mulai memahami sedikit demi sedikit mengapa kita sulit sekali keluar dari jerat kemiskinan. Jika seorang anak menginginkan sesuatu di luar batas kemampuan keluarganya, maka dia akan selalu dinasihati, “Jangan menginginkan itu, Anak. Kita orang yang tidak mampu!” Setiap kali dia menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi, dia selalu mendengar nasihat ini. Jika suatu kalimat didengarkan secara terus menerus, maka kalimat itu akan masuk ke dalam alam bawah sadarnya, dan menjelma menjadi keyakinannya. Jika keyakinan itu sudah terbentuk, maka sangat sulit bagi seorang anak keluar dari jerat kalimat itu, karena sudah menjadi bagian dari pola pikirnya. Sesuatu yang sudah menjadi pola pikir, lambat laun akan menjelma menjadi realitas bagi anak itu.


Contoh yang paling sederhana adalah ucapan ‘Uang itu susah’. Jika seorang memiliki keyakinan bahwa uang itu susah, maka uang akan tetap menjadi kesulitan baginya. Sekeras apapun dia bekerja, kemungkinan besar dia akan tetap mengalami masalah tentang keuangan. Persoalannya sederhana: keyakinan tentang uang. Keyakinan, adalah apa yang benar menurut orang itu. Jika dia yakin bahwa hidupnya susah, maka itu adalah kebenaran, dan lambat laun akan menjelma menjadi realitas.


Bagaimana hubungannya dengan imajinasi? Mengenai keyakinan ini, seorang akan menggunakan imajinasinya untuk mencari dan mengumpulkan semua fakta yang pada akhirnya menguatkan simpulan bahwa uang itu memang susah didapat. Dia tidak akan menggunakan imajinasinya untuk menemukan cara sehingga membuat uang itu menjadi gampang didapat. Karena? Di dalam pikirannya, dia sudah membatasi imajinasi dan segala daya mentalnya bahwa memang seperti itulah kenyataannya!


Imbas dari cara pengajaran semacam ini sudah kita kecapi saat ini. Kita tidak menggunakan imajinasi untuk membantu kita dalam hidup yang fana ini. Kita menggunakan imajinasi, daya yang begitu hebat ini, untuk meyakinkan kita bahwa kita tidak akan pernah lepas dari segala kemelaratan ini. Kita memakai imajinasi untuk mengambil beberapa contoh pengalaman dari orang lain, lalu menjadikan pengalaman itu sebagai realitas kita.


Lalu muncul lagi persoalan mengenai bonus demografi, di mana sebagian usia kerja kita akhinya menganggur. Semakin tinggi jumlah wisudawan, semakin tinggi angka pengangguran. Tentu saja, persoalan ini masih ada relevansinya dengan imajinasi. Sejak kecil, kita tidak pernah diajarkan untuk menggunakna imajiansi kita untuk membantu kita. Kita diajarkan, baik secara sadar maupun tidak sadar, menggunakan imajinasi untuk melawan diri kita, atau membuat diri kita menjadi lebih susah.


Satu persoalan mengenai imajinasi adalah, dia tetap akan digunakan oleh manusia, baik secara sadar maupun tidak sadar. Setiap saat, kita selalu menggunakan imajinasi. Dan jika tidak diatur secara baik, imajinasi yang kita hasilkan setiap saat itu akan menghancurkan diri kita. Imajinasi bisa dipakai untuk merancang kehidupan, merancang bangunan, menulis karya sastra, atau sebaliknya: untuk mendatangkan ketakutan, ketidakmampuan, kelemahan-kelemahan, dan lain sebagainya. Jika tidak diajarkan, seorang akan menggunakan imajinasi itu untuk melawan dirinya sendiri, dan menciptakan dunia yang sungguh-sungguh buruk untuk manusia.


Baiklah kita ilustrasikan cara kerja imajinasi ini dengan cara kerja seorang arsitek. Sebuah bangunan yang berdiri, pada mulanya telah selesai diciptakan oleh seorang arsitek dalam kepalanya. Dia harus bisa membayangkan gambar bangunan tersebut sebelum benar-benar menggambarnya di atas kertas. Jika sang arsitek kita ini tidak bisa mengimajinasikan sebuah gambar bangunan dalam kepalanya, maka dia tidak akan bisa menggambar. Tentu saja dia akan membutuhkan pengetahuan teknis dalam proses menggambar nanti, tapi paling pertama yang harus dia lakukan adalah mengimajinasikan bangunan itu dalam pikirannya. Atau, seorang pengusaha yang ingin membangun usahanya. Dia harus bisa mengimajinasikan hal-hal mengenai pekerjaannya itu dalam kepalanya, sebelum dia benar-benar merealisasikannya. Dia, paling tidak, sudah bisa membayangkan akan menjadi apa usahanya itu beberapa tahun kemudian. Seorang yang sedang membangun channel YouTube-nya harus sudah bisa memikirkan konten-konten kreatif apa saja yang akan diciptakan, sebelum benar-benar merealisasikannya.


Seorang yang baru saja lulus kuliah, tidak akan menganggur, jika dia menggunakan imajinasinya untuk merancang kehidupannya. Sebuah gambaran besar tentang pencapaiannya harus sudah ada dalam kepalanya, dan dia tinggal mengatur strategi untuk merealisasikannya. Dia tidak akan menunggu lowongan pembukaan CANS ataupun mengeluh tentang langkahnya lowongan pekerjaan, jika dia memanfaatkan sebuah daya kreatif yang telah diberikan oleh Tuhan ini untuk mengatur kehidupannya. Semakin banyak dia menggunakan imajinasinya untuk untuk mendukungnya, saya kira semakin kecil kemungkinan dia menggantungkan hidupnya kepada orang lain.


Jadi untuk sementara kita bisa berkesimpulan bahwa angka pengangguran yang semakin tinggi ini terjadi karena orang tidak menggunakan imajinasinya untuk melakukan ataupun menciptakan hal baru untuk dirinya. Dia juga tidak mengetahui apa bakatnya, siapa dirinya, dan kekuatan-kekuatan seperti apa yang ada dalam diri manusia. Padahal, daya itu selalu ada dalam dirinya, digunakan setiap saat, dan paradoksnya, dia lebih banyak menggunakan daya itu untuk melawan dirinya. Pertanyaan: mengapa dia tidak menggunakan imajinasinya untuk membantunya? Ada dua jawaban. Pertama, karena dia tidak tahu dan tidak mau mencari tahu kekuatan daya itu. Kedua, karena dia tidak diberitahu.


Kita bisa memutus rantai angka pengangguran ini dengan memberikan informasi yang cukup tentang ‘siapa itu manusia?’, dengan berbagai kekuatan mental yang dia miliki, salah satunya adalah imajinasi. Masalahnya, setelah lulus wisuda, seseorang biasanya tidak mengenal siapa dirinya dan tidak menggunakan imajinasi untuk merancang kehidupannya. Jika mereka tidak diajarkan tentang bagaimana cara menggunakan imajinasi untuk hidup, maka percayalah, para wanita akan menggunakan imajinasi itu untuk berkhayal bagaiamana suatu saat dirinya bisa berpacaran dengan Shah Rukh Khan, dan para lelaki akan menggunakan imajinasinya untuk berkhayal betapa mesranya dia berpacaran dengan Kajol. Sehingga terciptalah film Kuch Kuch Hota Hai 2 di dalam kepalanya. *****