Ditulis oleh Kopong Bunga Lamawuran pada 04 Oct 2025, 23:19
Perlombaan: Fiksi Kapitalisme yang Menghancurkan Siswa
Oleh: Kopong Bunga Lamawuran
Perlombaan telah jadi ritual tahunan di lingkungan sekolah, terutama menjelang Hari Pendidikan Nasional. Hampir di semua sekolah, dari tingkat dasar sampai tingkat menengah atas, terlibat dalam kompetisi ini, seolah-olah kemenangan dalam lomba adalah tolok ukur mutlak kecerdasan dan keunggulan siswa. Motivasi terbesarnya tentu saja menjadi juara: kalau bukan pertama mudah-mudahan kedua, kalau bukan kedua moga-moga ketiga. Motivasi lainnya: dengan perlombaan, seorang siswa bisa dipancing untuk lebih bergairah dalam belajar. Guru, dengan seluruh cinta kasih bercampur ambisi, berusaha memotivasi siswa agar menunjukkan yang terbaik demi sebuah piala dan piagam, pun agar sekolah-sekolah lain tahu bahwa di sekolahnya, terdapat siswa yang cerdasnya minta ampun.
Tetapi, adakah kita pernah bertanya secara serius, terutama kepada diri sendiri, mengapa seseorang siswa harus mengikuti perlombaan? Apakah seorang siswa akan bahagia jika dalam sebuah perlombaan dirinya tidak mendapatkan juara? Dan bukankah perlombaan, atau berkompetisi, adalah fiksi kapitalisme yang dielu-elukan bagai pemujaan terhadap Tuhan, yang sesungguhnya justru menghancurkan psikologi siswa?
Salah satu keunggulan Homo Sapiens dibanding homo-homo yang lain, menurut Yuval Noah Harari, adalah kemampuannya dalam menciptakan fiksi. Fiski bukanlah sebuah kebohongan! Fiksi adalah cerita yang diciptakan oleh manusia dan dipercayai secara kolektif, meskipun tidak memiliki dasar biologis atau alamiah. Dalam bukunya Sapiens, Harari menjelaskan bahwa kemampuan manusia menciptakan dan mempercayai fiksi adalah keunggulan utama yang membuat kita bisa bekerja sama dalam jumlah besar.
Tidak mungkin ada peradaban, negara, agama, pendidikan, tanpa ditopang oleh kepercayaan absolut terhadap sebuah fiksi. Pigay yang berasal dari Papua berpelukan mesra dengan Kopong yang berasal dari Nusa Tenggara Timur sewaktu mereka bertemu di London. Keduanya merasa begitu dekat walau baru pertama kali bertemu, bagai saudara kandung yang berjumpa kembali setelah puluhan tahun berpisah. Keduanya bisa saja meluangkan waktu untuk makan bersama, bercerita penuh tawa tentang pengalaman mereka selama di London. Tetapi, apa yang menyebabkan kedua orang yang berasal dari tempat berjauhan ini bisa begitu akrab? Papua dan Nusa Tenggara Timur amat jauh terpisah, dan sungguh aneh membayangkan bahwa walau terpisah jarak dan waktu, dan baru pertama kali bertemu, keduanya berlaku seperti saudara kandung. Bagaimana mungkin? Jawaban yang paling mungkin adalah karena kedua manusia ini percaya pada fiksi kolektif ala Yuval Noah Harari tentang kesatuan tanah air Indonesia, sebuah komunitas terbayang ala Benedict Anderson. Keduanya dibimbing oleh fiksi kolektif tentang persatuan. Jika salah satu dari kedua orang ini tidak lagi percaya dengan fiksi kolektif tentang Indonesia yang satu ini, ceritanya akan menjadi lain.
Sama seperti nasionalisme yang didasarkan pada fiksi kolektif, kepercayaan agama juga bertumpu pada narasi bersama. Mengatakan bahwa ‘Yesus lahir di Hotel Aston’ adalah sebuah kebohongan, tapi mengatakan bahwa ‘kalau berbuah kasih, kamu akan masuk surga’ adalah Fiksi. Orang bisa saling berpelukan karena percaya pada sebuah fiksi kolektif; mereka pun bisa saling membunuh jika percaya pada sebuah fiksi kolektif yang lain. Intinya adalah nasionalisme ataupun agama tidak mungkin bertahan jika orang tidak lagi percaya dengan fiksi kolektif tersebut.
Seperti halnya nasionalisme dan agama, ekonomi modern juga bertumpu pada fiksi kolektif. Kapitalisme, misalnya, bisa bertahan karena kita percaya pada nilai uang, pasar bebas, dan gagasan bahwa ‘yang lebih baik harus dihargai lebih tinggi.’ Kepercayaan ini membentuk struktur sosial yang mengutamakan persaingan, di mana manusia terus didorong untuk menjadi lebih unggul dari yang lain. Dalam konteks pendidikan, fiksi kapitalisme ini diwujudkan dalam perlombaan—ajang yang dianggap bisa membedakan ‘yang terbaik’ dari ‘yang biasa-biasa saja.’
Namun, apakah benar bahwa seorang siswa yang keluar sebagai juara 1 lomba menulis surat jauh lebih unggul dibanding siswa-siswa yang lain? Apakah perlombaan itu mampu menjadi meteran untuk mengukur kesuksesannya di masa depan? Apakah siswa lain jauh lebih buruk dari sang juara itu? Bukankah dalam banyak kasus, seorang yang terlihat biasa-biasa saja bahkan tidak mendapat juara apa pun, justru jauh lebih sukses ketimbang siswa yang sepanjang pendidikannya mendapat juara di setiap perlombaan?
Spekulasi dan argumentasi bisa dikemukakan tiada akhir. Tapi satu hal yang pasti: dengan mengikuti perlombaan, siswa sementara belajar untuk membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. “Apapun yang terjadi, aku harus lebih baik darinya! Silakan kamu pilih urutan ke sekian, tapi nomor 1 adalah posisiku!” Dengan cara ini, standar kebahagiaan seorang siswa sudah dibentuk sejak dini: dirinya akan bahagia jika ada orang yang lebih buruk darinya; dia akan bersukacita bila dia juara 1 dan temannya juara 100; dia akan merasa rendah diri bila tak mendapatkan apapun. Standar kebahagiaan dan kualitas hidup semacam ini tak bisa kita hindari, jika semua jenjang pendidikan menerapkan sistem yang merusak ini.
Dampak lain yang terjadi pada diri siswa adalah ia akan secara konstan mengalami kecemasan sejak dini dan merasa tidak pernah cukup. Sejak kecil, ia dipacu untuk selalu lebih baik dari yang lain, sehingga pendidikan—yang seharusnya menjadi proses belajar yang menyenangkan—malah menjadi sumber tekanan. Standar kebahagiaan dan keberhasilan yang ia anut pun mulai terbentuk: ia akan merasa senang jika lebih unggul dari orang lain, dan kecewa jika orang lain lebih unggul darinya. Jika pola pikir ini terus berlanjut, maka setelah ia lulus dan masuk ke dunia kerja, ia akan terus hidup dalam perbandingan: mengapa teman saya punya enam mobil sementara saya hanya lima? Mengapa saya belum bisa membeli lima rumah agar lebih unggul dari Titus Banamtuan yang hanya punya empat? Mengapa pakaian saya tidak semewah milik Ola Jordan?
Inilah salah satu fiksi kapitalisme yang terus digaungkan: bahwa untuk menjadi yang terbaik, seseorang harus mengalahkan yang lain. Bahwa kepuasan dan kebahagiaan hanya bisa diraih jika kita selalu memiliki lebih banyak, membeli lebih banyak, dan mencapai lebih banyak dibandingkan orang lain. Kesederhanaan adalah penyakit di mata kapitalisme⸺selamat tinggal Yesus Kristus dan Siddharta Gautama. Pola pikir ini tidak hanya ditanamkan melalui industri dan media seperti film, iklan, dan televisi, tetapi juga melalui sistem pendidikan yang mengutamakan persaingan ketimbang pembelajaran yang berorientasi pada pertumbuhan diri. Membanding-bandingkan diri dengan orang lain adalah bibit penyakit yang secara konstan ditanam dalam dunia pendidikan, ditabur dalam kepala para siswa, sehingga terasa seperti tak ada cara lain baginya untuk bisa sampai ke puncak potensinya selain dengan cara menjatuhkan teman sebangkunya.
Namun, apakah seseorang benar-benar harus membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menjadi yang terbaik? Tidak! Apakah mungkin seseorang berkembang tanpa harus merasa lebih unggul dari orang lain? Iya! Apakah ada cara yang simpel untuk diterapkan dalam dunia pendidikan? Tentu saja ada!
Salah satu jawaban filosofis sekaligus spiritual adalah belajarlah untuk menjadi sebuah Kehidupan! Lihatlah bunga mawar atau sebatang beringin. Sepanjang hidup, tugas mawar adalah tumbuh menjadi mawar; tugas beringin adalah tumbuh menjadi beringin. Tidak ada persaingan dalam proses pertumbuhan ini. Bahkan, mawar tak pernah sekalipun membandingkan kelopaknya dengan mawar yang lain. Dia tumbuh menjadi mawar seindah-sewangi mungkin, dan memberikan indah-wanginya kepada apapun dan siapapun. Dia tidak hanya memberikan kepada manusia saja, tetapi kepada apapun yang di sekitarnya. Misalkan, karena manusia tidak melihatnya, dia berhenti menebarkan harumnya? Tidak! Entah ada manusia yang menghirup harumnya atau tidak, mawar tetap menebarkan harumnya. Begitupun dengan beringin: dia tetap tumbuh dan memberikan oksigen, entah apakah ada manusia yang menghirupnya atau tidak! Makhluk hidup lain hidup dan tumbuh mencapai potensi semaksimal mungkin tanpa pernah membandingkan diri dengan apapun di sekitarnya. Selain bertumbuh secara maksimal, mereka juga memberikan manfaat kepada apapun di sekitar mereka. Luar biasanya, mawar atau beringin tadi tidak perduli apakah mereka mendapatkan penghargaan ataukah tidak.
Seharusnya seperti itulah cara hidup dan belajar seorang siswa. Ia harus tetap belajar dan tumbuh, bukan demi mendapatkan penghargaan atau menjadi juara! Ia harus tetap belajar dan memberikan yang terbaik, terlepas dari ada atau tidaknya perlombaan. Tugas satu-satunya adalah bertumbuh, bukan mencari pengakuan. Penghargaan terhadap proses ini akan membuat mereka menjadi siswa yang lebih bahagia.
Selain belajar menjadi sebuah kehidupan, cara lain, yang menurut saya lebih manusiawi, adalah berkolaborasi. Daripada berkompetisi dan memilih siapa yang terbaik di antara 30 siswa, lebih baik buatlah sebuah karya antologi bersama. Tidak ada pendiskriminasian dan pengeliminasian dalam proses ini. Siswa akan belajar bekerja sama dan berkolaborasi. Kualitas ini jauh lebih agung dan dibutuhkan, ketimbang usaha tiada henti sekadar membuktikan bahwa dia lebih baik dari orang lain. *****
Catatan: esai ini pernah tayang di Victory News.