← Kembali ke Daftar

MEMBUNUH FAJAR - KOPONG BUNGA LAMAWURAN

Ditulis oleh Kopong Bunga Lamawuran pada 14 Oct 2025, 00:07

MEMBUNUH FAJAR


Karya: Kopong Bunga Lamawuran


 


Sewaktu selesai menjelajahi hampir sebagian besar isi pulau itu, aku mesti menyempatkan diri menjumpai seorang sahabat lama yang kukenal belasan tahun lalu. Ada rasa enggan yang dalam menghinggapiku ketika dengan susah payah aku menaiki sebuah mini bus melewati perkampungan demi perkampungan menuju perkampungannya. Rasa enggan itu perlahan-lahan menjelma menjadi rasa putus asa yang menyedihkan, membuatku kelihatan seperti seorang pengembara penyendiri yang telah kehilangan harapan. Sekuat apapun niatku untuk tetap tersenyum, kesedihan yang terpancar dari wajahku begitu kentara, dan pada akhirnya membuatku semakin yakin: riset kali ini akan berakhir sia-sia.


Telah lebih dari seminggu aku berjalan dari kampung ke kampung, memasuki rumah adat demi rumah adat, menjumpai manusia demi manusia, mencoba menyendiri malam demi malam, dan untuk beberapa alasan, dengan sangat sungguh-sungguh (sekaligus sedih) aku merasa bahwa segala proses yang telah aku lewati, hanyalah sebuah pengembaraan sunyi nan sepi, yang pada akhirnya memojokkanku di tengah lautan manusia yang begitu ramai. Rencana awalku, adalah mencari lalu menuliskan legenda hancurnya sebuah kerajaan purba akibat perang saudara, dan dengan penuh ketulusan, aku mengucapkan limpah terima kasih kepada orang-orang yang dengan liarnya menggosipkan legenda ini, hingga memekarkan minat dan niat untuk mengetahui lebih jauh. Namun, bagai pemuda yang telah ditinggal kekasihnya, aku rupanya bertepuk sebelah tangan. Beberapa tetua yang aku jumpai, hanya bisa menyuguhkan jawaban yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan: “Kami adalah orang-orang pilihan!” Jawaban itu tentu saja mengecewakan siapa saja, lantaran tanpa alasan yang kuat, seorang bocah baru lahir sekalipun bisa memberikan jawaban serupa.


Karena aku telah cukup terlatih dalam mengenal berbagai jenis manusia, maka kukatakan saja dalam hati sewaktu mendengar penuturan tetua-tetua itu: “Maafkan aku, hai Manusia Tua, tapi aku takkan termakan bualanmu!” Aku, sang Manusia Muda, tidak akan dengan begitu mudahnya percaya pada keyakinan-keyakinan tanpa alasan kuat, dan telah kurenungkan dalam-dalam, bahwa aku rupanya terjebak dalam permainan yang sama sekali telah kupandang keliru. Apa yang kurenungkan ini tentu saja mengecewakan siapa saja, terutama diriku sendiri, lantaran segala biaya dan pengorbanan yang telah dikeluarkan untuk membiayai pengembaraan ini pada akhirnya sia-sia belaka. Jiwa muda ini sudah begitu lamanya tenggelam dalam metode-metode pasti, yang tidak begitu saja menerima segala keyakinan ataupun mitos dan legenda tanpa suatu bukti yang kuat. Maka, seperti mengucapkan salam perpisahan yang tulus kepada seorang sahabat, dengan sangat tulus juga aku mengucapkan hal yang sama terhadap rencana awalku.


Namun jika aku harus termakan oleh bualan rendahan itu dengan mengesampingkan metode-metode yang kupahami, maka mau tidak mau aku mesti menyelam lebih dalam lagi, meneguk lebih banyak air, hingga apa yang aku dapat nanti adalah sesuatu yang lebih istimewa dari metode-metode yang kupahami. Jika harus demikian jadinya, maka aku harus mengumpulkan dan mencatat tiap hal, menafsir dan mencoba mensejajarkan hal-hal itu dengan sebuah kebudayaan yang lebih luas, hingga kemudian aku bisa mengasumsikan sebuah kesimpulan tanpa harus terjerat dengan metode-metode. Dalam hal ini, aku telah melakukan sebuah terobosan baru yang tidak pernah kurencanakan dari awal. Tapi karena hal itu memang tidak pernah kurencakan dari awal,  dan tetap berpegang teguh pada apa yang kugariskan―yaitu mendapatkan cerita yang utuh tentang hancurnya kerajaan purba itu―maka dengan penuh kesungguhan aku menyadari: pengembaraan ini hanyalah suatu rekreasi yang sungguh sia-sia. Akhirnya kurencanakan: perjumpaan dengan sahabat lama ini akan kubuat sesingkat mungkin, dan sesegera mungkin angkat kaki dari Nusa Tadon1 ini.


Kepada sopir mini bus tersebut kukatakan tujuan perjalananku. Dengan sangat ramah seolah aku ini sahabat karibnya, dia memberikan peneguhan dan mengatakan, bahwa dia mengenal hampir semua orang dalam kampung itu. Orang-orang di sana sangat ramah, lagi katanya, dan mereka pastinya menyambutku dengan penuh suka cita. Setelah dia membeberkan segala hal yang tidak perlu itu (setidaknya bagiku), dia meminta maaf karena tidak bisa mengantar sampai ke rumah sahabatku.


Ketika sampai di persimpangan jalan, aku turun dan mendapati sahabatku telah menunggu. Kami lalu berpelukan dengan sangat mesra, dan jika tidak ditahan-tahan, air mataku pasti akan jatuh berderai. Beberapa saat kemudian, dengan menggunakan motor bututnya, kami membelah jalan mendaki bersemen, dan pertanyaan-pertayaan remeh temeh pun kerap terlontar. Dengan mengabaikan bunyi deruh motor yang sungguh menggangu, dia dengan begitu antusiasnya menjawab semua pertanyaanku. Suaranya membuatku nyaman, karena suara ini adalah satu-satunya suara manusia yang kukenal dengan baik di pulau ini. Padaku diceritakan tentang keluarganya, pekerjaanya, kebunnya, pohon-pohon tuaknya, dan aku memang sengaja membiarkannya mendominasi pembicaraan kali ini. Kepadanya hanya sepintas lalu kuceritakan perjalananku selama seminggu ini, sambil berharap mudah-mudahan saja dia melupakan cerita itu secepat dia mendengarnya.


“Aku rasa takkan sanggup menyelesaikan apa yang telah kurencanakan.” Kataku, “Orang-orang disini terlalu tertutup―setidaknya itu menurutku. Jawaban yang mereka berikan membuatku putus asa.” Aku mengucapkan semua itu seperti berteriak.


“Mereka tidak akan menceritakannya, Kawan!” Balasnya berteriak dengan keras pula.


“Jika mereka tidak bisa menceritakan dengan lebih utuh, sama artinya mereka menyimpan kebohongan-kebohongan, yang lambat laun akan menjadi legenda, lalu menjadi mitos yang menjerumuskan orang-orang selanjutnya. Karena apabila suatu kebenaran tidak bisa dipertahankan, dia akan menjadi kebohongan belaka! Pada awalnya aku yakin bahwa segala yang telah kurencakan akan berhasil, dan dengan sungguh-sungguh juga meyakini, jika kerajaan purba itu ada dan telah hancur karena perang saudara itu. Aku sangat yakin hal itu, Kawan!”


“Jika kamu sudah yakin,” Teriaknya lagi, “Apa lagi yang kaubutuhkan?”


“Oh ayolah, Kawan! Dunia sekarang membutuhkan lebih dari sekedar keyakinan.”


“Untuk apa dunia membutuhkan ‘lebih dari sekedar keyakinan’ itu?”


Aku jadinya bosan menanggapi pertanyaan ‘tak tahu diri’ dan remeh temeh tersebut. Biarlah kujadikan perjumpaan kali ini sebagai satu ‘perjumpaan murni’ antara dua orang sahabat dengan mengesampingkan segala tetek bengek dunia yang sudah sepenuhnya kuakui gagal. Si orang kampung, sahabatku ini, hanyalah seorang manusia yang tidak tahu menahu tentang perkembangan, yang hidup jauh dari pusat peradaban, dan merasa bahwa dunia ini berjalan sangat lamban. Tak perlu bersusah-susah juga aku harus menjejali pikirannya dengan sesuatu yang malah membuatnya semakin bingung.


Kami memasuki kampung Nobo dari arah barat layaknya sepasang kekasih memasuki pintu gerbang surga. Sinar mentari senja yang memancar, tampak perlahan-lahan turun menyongsong peraduannya. Dari ketinggian, laut tampak begitu indah seperti balutan sarung para bidadari bermotif naga yang keperak-perakkan. Pada tempat kami melintas sekarang ini, kami bisa melihat dengan jelas padang rumput yang luas, memenuhi hampir sebagian besar pesisir pulau Lomblen2. Para penduduk yang kami jumpai menyapa dengan begitu santunnya, yang dengan itu membuatku merasa diri diterima dalam suatu pulau yang sebenaranya benar-benar asing bagiku. Aku mengira kami akan berhenti pada halaman salah sebuah rumah. Tapi tidak.


“Beberapa orang sudah menunggu di pemondokan.” Teriaknya.


Seperti hewan piaraan, aku tak memiliki alasan untuk menolak. Dibawa ke dasar laut atau ke puncak gunung sekalipun aku hanya mampu menurut, karena hanya sebatas itulah yang mampu kulakukan sebagai seorang asing. Dan inilah yang kupikirkan kemudian: untuk beberapa kemungkinan, aku memiliki alasan yang cukup untuk merasa takut. Sama sekali tidak pernah terbayang dalam pikiranku, jika kedatanganku untuk menjumpai sahabat lama ini sudah ditunggu oleh beberapa orang. Mengapa mereka harus menunggu? Pembunuhan dan penyiksaan bisa terjadi di mana saja, dan juga kepada siapa saja, apalagi kepada seorang yang baru beberapa minggu menginjakkan kaki di pulau ini. Jika aku telah ditunggu, terbuka kemungkinan aku akan diperlakukan serupa, dan bukankah suatu kejadian naas datang selalu tanpa permisi? Bayangan kematian dan pembunuhan semakin lama semakin merasuki pikiranku. Bukan apa-apa! Selama riset, aku selalu mendengar orang-orang membicarakan kisah pembunuhan dan pembantaian seperti membahas sesuatu yang sangat indah. Mereka selalu sambil tersenyum bangga, mengatakan kepadaku bahwa perang dan kematian adalah satu-satunya jalan paling indah untuk memperoleh suatu kebenaran. Lalu padaku disuguhkan beberapa cerita (bagiku hanya untuk menunjukkan kebiadaban yang mereka pegang teguh), yang kemudian mereka menyuruhku untuk mencatatnya.


Selama perjalanan menuju pemondokan, aku tak pernah berhenti memikirkan soal pembunuhan dan kematian. Kisah pembunuhan yang dilakukan Pati dan Beda3 cukup menjadi alasan untuk membuat bulu kuduk berdiri. Atau kisah perang saudara antara Buga Bae Tana Mera dengan Tube Desi Ape Waan4 yang pada akhirnya menghancurkan sebuah kerajaan purba sangat-sangat cukup untuk membuatku menggigil. Satu-satunya alasanku untuk sedikit merasa tenang, adalah bahwa aku memiiliki seorang sahabat yang tentunya menjaga keselamatanku selama berada di sini.


Ketika memasuki area pemondokan, matahari telah hilang sama sekali. Dengan mengandalkan sinar perapian yang berasal dari dalam pondok, kami berdua melangkah memasuki pemondokan tanpa memberi salam terlebih dahulu. Terdapat empat lelaki tua di dalam pondok, duduk melingkari sebuah potongan kayu besar (dijadikan sebagai meja), dan perapian menyala-nyala di samping mereka. Setelah kami semua bersalaman, aku dipersilakan duduk pada sebuah potongan kayu yang lebih kecil, yang sepertinya memang sudah disediakan buatku. Aku menurunkan tas dari pundakku dengan pelan dan meletakkannya di atas meja tersebut dengan sangat hati-hati, seolah kekasaran sedikit saja akan menghancurkan seluruh isi tas itu. Untuk menghangatkan suasana, sahabatku menceritakan kepada mereka siapa diriku, apa tujuanku, bagaimana perjalananku, dan apa saja yang kuperoleh selama berada di pulau ini.


“Ya.” Ujar salah seorang tetua yang duduk berhadapan denganku. “Pulau ini kaya, Anak Muda. Ramai sekali orang-orang yang datang untuk menggali dan menemukan sesuatu, seperti bahwa di tanah ini, tersimpan sesuatu yang harus diketahui oleh semua orang di seluruh dunia. Namun ada satu hal yang tidak bisa dipahami oleh mereka! Sama sekali aku tidak heran, jika selama perjalanan, kamu selalu mendapatkan jawaban yang sangat tidak memuaskan.”


Aku hanya tersenyum paksa mendengar penuturan itu. Seorang lagi tetua, yang mengenakan sebuah cincin bermata naga di tangannya, menghisap tembakaunya dan berujar pelan namun berat. “Kita mungkin bisa membicarakan banyak hal, Anak Muda, tapi tidak untuk diberitakan kepada seluruh dunia. Mungkin hal ini kedengaran tidak memuaskan, tapi kami tidak bisa berbuat apaa-apa.” Dia diam beberapa saat. Lalu lanjutnya,”Tapi tidak baik juga, jika kami tidak mendengar secara langsung apa yang membawamu ke sini. Jika kami bisa membantu, kami akan membantumu. Coba ceritakan, Anak Muda.”


Ketika diberikan kesempatan untuk berbicara, aku menggunakan segenap kemampuan persuasifku untuk menarik simpati mereka layaknya seorang pengkhotbah. Penolakan barusan tidak berarti sama sekali bagiku―terdengar seperti sebuah lagu lama yang terus-menerus dinyanyikan. Namun kali ini memang lebih longgar penerimaannya, siapa tahu aku bisa mendapatkan hasil di saat aku sama sekali merasa bahwa pengembaraan ini sia-sia belaka. Aku menceritakan secara lebih detail seperti mengeja sesuatu kepada seorang anak: segala rencanaku, buku-buku yang kubaca, biaya-biaya yang telah kukeluarkan selama perjalanan, juga penolakan demi penolakan yang kuterima. Kepada mereka kukatakan bahwa pulau ini telah menarik perhatian banyak orang―hanya sekedar meyakinkan mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang patut didengar dan dicatat pemikirannya. Jika dikaitkan dengan kepercayaan setempat, kataku lagi, orang-orang Kristiani perlu bersyukur dan berterima kasih kepada mereka, karena sebagian besar dari kisah-kisah penciptaan dari Alkitab, telah diadaptasi dari kepercayaan-kepercayaan purba seperti yang mereka pegang teguh sampai sekarang ini. Lebih jauh lagi―lagi-lagi untuk menarik simpati mereka―aku menjelaskan lebih detail tentang nama pulau dan suku yang mereka gunakan, ritual-ritual yang mereka praktekan, legenda dan mitos yang mereka tuturkan, yang semuanya mengarah pada satu tujuan: dengan memberikan keyakinan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan, mereka bisa menceritakan kepadaku legenda hancurnya kerajaan purba itu.


“Kami menyadari itu, Anak Muda, tapi tak bisa membahasakannya!” Seru seorang tetua yang berambut uban dengan bibir cukup tebal, yang duduk bersebelahan denganku. Lanjutnya, “Kami menerima dengan rendah hati setiap agama yang masuk, tapi kami tidak akan melupakan segala warisan para leluhur kami. Segala cerita mitos yang kami simpan, adalah kenangan-kenangan masa lalu para leluhur kami, yang kami rawat dan simpan sebagai koda5 yang tidak mungkin kami lupakan begitu saja.”


Mendengar jawaban itu, timbul keyakinan bahwa inilah satu-satunya kesempatan yang kumiliki. Sekarang atau tidak sama sekali! Tanpa diminta, dengan sangat cekatan aku mengambil alat perekam dari dalam tas, dan setelah menghidupkan alat itu, aku lalu meletakkan begitu saja di atas meja. Aku merasa yakin sekaligus was-was, bahwa inilah saat emas yang kutunggu-tunggu selama ini.


“Jika aku boleh bertanya,” Kataku selajutnya dengan suara yang terdengar seperti memohon, “Apakah memang pernah berdiri sebuah kerajaan purba di sekitar daerah ini, Nama Lolon, yang akhirnya hancur akibat perang saudara?”


Setelah pertanyaanku itu, sunyi secara tiba-tiba memenuhi pemondokkan. Aku tidak tahu bagaimana awalnya, tapi kini wajah-wajah semua orang yang berada dalam pondok itu berubah menjadi sangat serius. Sahabatku, dengan satu tarikan napas yang sangat berat berujar, “Kami tidak akan menceritakannya kepada orang lain!”


“Laba!” Tetua yang beruban dengan bibir cukup tebal itu menyebut nama sahabatku dengan tenang. “Jangan terlalu keras dengan Anak Muda yang menjadi tamu kita ini.”


Sejujurnya, aku sangat merasa berdosa dengan pertanyaanku ini, tapi hanya itulah satu-satunya kesempatan dan jalan yang bisa kudapat, dan mesti kugunakan sebaik mungkin. Aku sangat berharap kepada mereka semua―terutama kepada tetua yang beruban itu―untuk bisa membantu sekiranya boleh.


Setelah sunyi cukup lama, tetua beruban itu berujar pelan, dengan suara yang nyaris terdengar seperti nyanyian di tengah-tengah pegunungan. “Anak Muda, aku menyimpan kisah itu dengan rapi di sanubariku, merawatnya seperti merawati anak kandungku sendiri. Mengisahkannya kepada orang lainpun jarang, karena siapalah aku ini sehingga bisa menuturkan aib orang? Tapi karena kamu sudah mengorbankan banyak hal untuk sebuah kisah purba ini, maka tidak elok jika kamu pulang dengan tangan hampa. Jika kamu ingin sekali mendengarnya, aku bersedia mengisahkannya.”


Sunyi sesaat. Semua orang―kecuali tetua beruban dengan bibir cukup tebal itu―dalam pondok itu memberiku tatapan yang sulit kumaknai, seolah sesuatu yang menghebohkan telah terjadi tanpa kusadari. Mungkin saja itu adalah ekspresi penolakan, atau kebencian, tapi semua sudah terlanjur. Sambil tersenyum dalam hati, aku mengangguk pelan.


Pada waktu tetua beruban itu angkat bicara, aku menggunakan segala kesadaran dan kemampuanku untuk menyimak dengan teliti dan sungguh-sungguh. Suaranya begitu indah di telinga, nyaris seperti mendengar suara Tuhan sendiri. Kejadian demi kejadian dituturkan dengan begitu lancarnya, seolah telah dilatihnya beratus-ratus kali dalam mimpinya. Kukesampingkan rasa bersalah, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama itu, aku hanya menyimak. Akhirnya, setelah lebih dari seminggu mengembara seperti rusa yang mencari dan menemukan mata air, aku kini bisa pulang dan menyelesaikan tulisanku.


Setelah kisah itu habis dituturkan, tetua beruban itu diam beberapa saat. Dan hanya sunyi yang terdengar. Aku dengan sangat cepat (sekaligus hati-hati) mengambil alat perekam dan setelah mematikannya, kumasukkan kembali ke dalam tas. Tetua itu melihatku dengan serius lalu berkata, “Akan kautulis juga kisah itu, Anak Muda?”


Aku mengangguk pelan mengiyakan. Lelaki beruban itu menatapku lekat, seperti berusaha menghafal setiap lekuk wajah dan tubuhku. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya kepada para tetua-tetua lainnya dan mengangguk misterius. Kuakui, mereka sepenuhnya telah terjebak dalam permainan pikiran yang kuatur dengan begitu rapinya. Setelah berbasa-basi sejenak, aku meminta kepada kawanku untuk pulang dan berisitirahat di rumahnya, dengan alasan kecapaian dan juga untuk memikirkan perjalananku selanjutnya. Para tetua yang hadir hanya bisa memandangku dengan dingin, seolah permintaanku itu menyinggung perasaan mereka. Namun pada akhirnya mereka pun tak bisa menahanku lebih lama.


Dengan penuh rasa kemenangan, aku bangkit dan mengikuti langkah kawanku yang telah keluar dari pondok. Dan sejujurnya, inilah akhir dari pengembaraanku yang melelahkan. Tidak disangkah-sangkah, seperti mendapatkan ilham begitu saja dari sorga, aku, sang Manusia Muda, bisa mengakhiri pengembaraan ini dengan kemenangan.


Baru beberapa langkah, terdengar bisik-bisik aneh di belakangku. Sewaktu aku menoleh, seorang tetua, dengan kekuatan penuh mengayunkan belida6 ke arah leherku. Rasa takut dan kaget membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Usaha untuk menghindar belum sepenuhnya menyelamatkan nyawaku, dan belida itu dengan beringasnya merobek bahu kananku. Dalam sekejap, darah mengubah warna bajuku menjadi merah semata. Ayunan kedua mengenai pinggangku, dan aku jatuh terjerembap. Dengan kekuatan yang tersisa, aku berusaha untuk bangkit dan berlari. Dua kali lagi ayunan belida itu mengenai leherku, membuatku menggelepar, sekaligus menggelapkan seluruh penglihatanku. Samar-samar, kulihat kawanku berteriak dan menjauh. Darah membajiri tanah pemondokkan itu, seperti aliran sungai darah. Sejurus kemudian, aku tak merasakan apa-apa lagi. Gelap memenuhi seluruh penglihatanku. Hanya gelap!


Umsini, 19 Januari 2017


Catatan:


1.     1.  Nusa Tadon adalah nama lain dari pulau Adonara.


2.     2.  Pulau Lomblen nama lain dari pulau Lembata.


3.    3.   Legenda pembantaian manusia secara besar-besaran yang dilakukan oleh Pati dan Beda untuk mengambil kembali ibu kandung mereka, Peni Masan Dai, yang ditawan oleh Raya Hua Hubu Kolot.


4.    4.   Buga Bae Tana Mera dengan Tube Desi Ape Waan adalah dua tokoh kunci dalam legenda perang saudara yang menghancurkan Kerajaan Nama Lolon, yang dulunya terdapat di sekitar daerah Boleng.


5.    5.   Koda bisa diartikan sebagai sabda atau kebenaran.


6.   6.    Belida: pedang panjang.


Cerpen ini termuat dalam buku antologi cerpen Perzinahan di Rumah Tuhan (2017), diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende.