← Kembali ke Daftar

Manusia Bodoh - Kopong Bunga Lamawuran

Ditulis oleh Kopong Bunga Lamawuran pada 05 Oct 2025, 00:33

Manusia Bodoh


Karya: Kopong Bunga Lamawuran


 


SEBELUM genap 20 tahun, aku sudah tahu kalau sebagian besar manusia yang kukenal adalah manusia bodoh! Haeee.... Jangan melotot begitu padaku. Jangan pula tersinggung, karena aku tidak memaki siapapun. Yang kupahami kita sudah merdeka. Sebagai manusia merdeka, bukankah aku bisa mengatakan pendapat tanpa perlu merasa takut dengan siapapun?


            Kamu bertanya siapa namaku? Tidak, itu tidak penting. Yang perlu kamu ketahui ialah, pada umur 18 tahun, aku telah mendapatkan sebuah pekerjaan mapan: sebagai sopir pribadi Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di kabupaten kami. Lihat, aku yang hanya tamatan sekolah menengah pertama telah mendapatkan satu pekerjaan mapan dan terpandang. Tidak seperti para lulusan sarjana berotak bodoh yang kini menganggur itu, aku merasa diberkahi dengan sejenis kejeniusan yang sulit aku pahami. Walau aku masih bertalian darah dengan atasanku, fakta bahwa hanya akulah satu-satunya manusia di kampung kami yang dipanggil untuk menjadi seorang sopir pribadi adalah kejadian penting yang perlu kita semua syukuri. Angkat seloki!


Walau sekadar sopir pribadi, kuyakinkan bahwa pekerjaan ini teramatlah penting. Mau tahu alasannya? Dengar: aku bertanggung jawab atas keselamatan seorang manusia terpandang, yang juga bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup para warga di kabupaten kami. Coba pahami ini: jika atasanku tidak menandatangani sebuah dokumen, seluruh warga tidak akan melangsungkan hidupnya secara aman. Di mana-mana, ke mana pun, mereka pasti membutuhkan Kartu Tanda Penduduk, misalnya. Karena itu, sesungguhnya tugasku terbilang penting, sepenting tugas atasanku. Tapi menurutku, atasanku ini juga manusia bodoh! Agar tidak tersinggung,  maka dengarkan ceritaku ini.


Pada suatu Jumat pagi yang cerah, yaitu dua bulan setelah dipanggil bekerja, aku menjemput atasanku di rumahnya. Jarak rumah dari kantor hanya sekitar 100 meter, dan ‘jarak’ inilah yang menimbulkan satu simpulan dalam kepalaku bahwa atasanku adalah seorang manusia pemalas. Tapi tidak apa-apa! Justru karena kemalasan semacam inilah, orang-orang seperti kami bisa mendapatkan pekerjaan mapan.


Pukul 08.00 pagi, aku sampai di depan rumahnya. Setelah mematikan mesin mobil, aku keluar, melangkah hati-hati agar tak menimbulkan keributan, lalu duduk bersandar pada tiang teras rumah. Istrinya yang berkulit terang itu membuka pintu dan berkata Bapak sedang siap-siap. Mohon bersabar sejenak.


“Baik, Mama. Tidak apa-apa,” jawabku dengan suara selembut sutra.


Pintu dibiarkan terbuka, tapi wanita itu masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkanku sendiri yang kemudian asyik menatap langit cerah. Bosan merenungi langit, kukeluarkan Android dari saku celana, mengetuk layarnya, dan jam menunjukkan pukul 08.30 waktu setempat. Inilah yang aku pikirkan: jam sudah begini tapi setan satu ini belum keluar-keluar juga. Selalu begini tiap kali dijemput. Makan uang negara percuma. Inilah mengapa orang-orang selalu mengeluhkan buruknya pelayanan di kantor kami.


Dengan gusar kumatikan layar handphone, mengembalikan ke saku celana, mengambil sebuah kerikil, lalu dengan sedikit kemarahan melempar kerikil itu ke arah bunga-bunga. Seharusnya, aku melempar batu kecil itu ke muka atasanku, karena dia pemalas. Tapi batu telah dilemparkan. Tangkai bunga indah itu bergoyang sedikit saja.


Lima belas menit kemudian, si tua bangka tak berguna ini muncul di depan pintu dan memanggil namaku. Suaranya mengagetkanku, membangunkanku, membalas sapaannya, dan secepat kilat berlari ke arah mobil.


Dengan gerakan tangan yang terlihat anggun, kubukakan pintu mobil untuknya.


“Silakan, Bapa,” kataku masih dengan suara selembut sutra.


Dia masuk, aku masuk, mobil meluncur. Kunyalakan AC karena hari makin panas. Selama perjalanan singkat ini, tak ada kata terucap di antara kami. Suasana sunyi ini membuatku nyaman. Ada semacam kegugupan yang timbul dan bercampur dengan nada suaraku jika berbincang dengan atasanku mengenai topik-topik pribadi. Karena itu, diam adalah jalan terbaik.


Sampai di depan kantor, dia berkata kepadaku, “Tunggulah di sini. Saya ada janji dengan seorang tamu. Jika kau lihat anggota DPD (dia menyebutkan namanya) datang, langsung arahkan ke ruanganku.”


“Siap, Bapa.”


Pria tua ini keluar dari mobil, melewati kerumunan sejumlah warga, masuk ke dalam kantor dan langsung menuju ruangannya. Selesai sudah pekerjaan pagi ini. Aku meregangkan tubuh, menyantaikan jiwa, dan baiklah, aku merokok dulu.


Sambil mengepulkan asap Surya 12, aku melangkah ke arah kerumunan warga di depan kantor. Aku tidak menyapa mereka, tapi mereka menyapaku dengan hormat. Setelah dengan enggan membalas sapaan, aku bertanya mengapa mereka berkerumun di sini.


“Oh, Pak Pegawai,” kata seorang di antara mereka. “Kami ini mau urus KTP. Anak-anak kami tidak bisa bekerja di mana-mana karena tidak ada KTP. Sudah beberapa hari ini kami tidak bisa bertemu dengan Pak Kadis. Tadi beliau hanya lewat dan tidak menyapa kami. Kami tahu kami telah buat suatu kesalahan. Kami datang ke sini untuk minta maaf, sehingga beliau bisa tandatangani KTP anak-anak kami. Kalau Pak Pegawai bisa bantu, tolong katakan kepada beliau, kami ingin bertemu dan meminta maaf.”


Aku bertanya kesalahan seperti apa yang telah mereka lakukan. Dan mereka mulai bercerita. Kudengarkan cerita mereka dengan teliti, sambil memilih langkah terbaik apa yang mesti aku ambil. Semua yang mereka lakukan selama ini mereka ceritakan, dengan segala pengeluhan dan kekesalan yang mereka luapkan. Menurut mereka, mereka telah menyinggung nurani atasanku. Mereka menyesali itu dan berniat meminta maaf, sehingga segala urusan administrasi mereka bisa berjalan lancar.


“Baiklah,” kataku. “Hari ini bos tidak bisa diganggu. Ada tamu penting. Besok jika sudah ada perkembangan, akan aku sampaikan. Saat ini bos sedang tunggu tamu lain.”


Mereka berterima kasih padaku, dan berkata akan memenuhi segala persyaratan yang akan dikemukakan nanti. Aku mengangguk, lalu meninggalkan kerumunan itu. Di samping gedung kantor, aku duduk bersendiri merokok dengan santai, dan sebenarnya sama sekali tidak memikirkan persoalan yang dihadapi para warga itu. Kuakui, cerita tentang perjuangan para warga ini sempat kuikuti di media sosial, tapi bukan dengan satu niat untuk mengetahui segala hal lebih rinci. Ternyata orang-orang inilah yang membuat aktivitas pengambilan batu marmer di tempat mereka sempat terhenti. Aku bersimpati pada mereka, tapi kamu tahu, aku hanyalah seorang tukang sopir.


Kesempatan bersendiri itu berlangsung hanya sekitar 10 menit, karena kulihat sebuah Pajero Sport warna hitam memasuki halaman kantor. Si anggota DPD itu keluar, dan tanpa kusadari, aku telah berdiri di sampingnya, membungkuk memersilakannya memasuki kantor. Ketika melewati kerumunan warga, aku sama sekali tidak memerhatikan mereka. Kau tahu alasannya? Betul. Aku tidak bisa menyamakan kedudukan mereka dengan tamu sepenting ini.


Kamu ingin tahu nama sang tamu agung ini? Ah, tidak perlu. Ini rahasia. Tapi agar kamu tidak mati penasaran, baiklah kugambarkan sedikit ciri-ciri fisiknya. Rambutnya telah uban, wajahnya agak bulat, alis matanya rapi, dan bibirnya merekah. Tentu saja dia tidak merokok (sayang sekali jika uangnya yang banyak itu tak digunakan untuk membeli rokok), langkahnya tegap, dan perutnya sedikit buncit. Kutambahkan lagi: dia selalu tersenyum padaku. Aku tahu senyum itu tanda meremehkanku, tapi tidak apa-apa. Kini, setelah dia masuk ke dalam ruangan atasanku, aku berdiri berjaga di depan pintu seperti polisi.


Ketika mereka keluar ruangan, secepat kilat aku meluncur ke arah mobil, melewati kerumunan itu tanpa bersuara, lalu dengan tangkas membuka pintu mobil untuk dua manusia tua itu. Mereka masuk, aku masuk, mobil meluncur tanpa pamit.


“Kau lihat warga yang berkerumun tadi?” tanya atasanku kepada tamunya.


Sang tamu mengangguk. “Siapa mereka?”


“Mereka adalah warga (dia menyebut nama tempat), lokasi di mana kita tuju ini. Aku tidak akan menandatangani segala urusan mereka, jika mereka tidak melunak. Mereka itulah yang membuat aktivitas kita terhenti. Orang-orang bebal ini tak tahu diuntung. Karena sudah menghalangi aktivitas kita, aku mesti beri pelajaran untuk mereka,” kata atasanku dengan sinis.


“Oh, begitu,” balas sang tamu sambil tertawa. “Mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi, ya.”


Kedua orang tua sialan ini terus berbicara, mengatur strategi agar pengambilan batu marmet itu bisa berjalan kembali. Tapi agar kamu tidak bingung dengan alur diskusi mereka, maka aku merasa perlu untuk memperjelasnya: dua tahun lalu, sebuah perusahan dari luar pulau datang ke tempat para warga itu. Setelah bertemu dengan kepala desa dan para tua adat, mereka mulai mendatangkan alat-alat berat, memotong-motong bukit marmer yang terletak di pinggir kampung, lalu mengirimkan batu-batu itu ke luar pulau. Itu adalah bukit marmer yang dijaga dan dirawat warga selama ratusan tahun. Selama ratusan tahun itu, mereka sama sekali tidak mengetahui seberapa berharganya bukit ini, atau menjadi apakah batu-batu itu jika diolah nanti. Awalnya mereka diam saja selama beberapa waktu saat batu-batu itu diambil. Namun pada akhir tahun, muncullah seorang dari desa lain, memprovokasi para warga untuk menolak pengangkutan batu-batu itu. Sejumlah warga pun angkat bicara, meminta agar aktivitas itu dihentikan. Awalnya, mereka hanya berbicara. Makin lama, sejumlah warga mulai mematok lahan, menutup jalan, dan mengusir siapapun yang datang ke tempat mereka dengan tujuan untuk mengambil batu marmer. Secara pribadi, aku sangat tersanjung dengan ulah warga ini. Aku bangga pada mereka, karena mereka masih berniat memertahankan sumber alam mereka dari orang-orang rakus. Jika aku belum mendapatkan satu pekerjaan yang mapan, aku tentu akan bergabung dengan mereka. Tapi seperti yang kamu ketahui, aku sekarang telah jadi tukang sopir!


Nah, sekarang kamu telah mengetahui sebagian dari cerita warga pembela batu marmer itu. Dan, sedang dua manusia tua di bangku belakang ini berdiskusi, aku bisa menarik satu simpulan sederhana ini: ternyata ada orang dalam yang mengatur agar batu-batu itu bisa diambil dan di bawah ke luar pulau. Inilah yang aku maksudkan dengan manusia bodoh itu, Sobat. Dua setan di belakangku ini sudah diberi jabatan, tapi bukannya membantu kami orang kecil, mereka malah cari untung pula. Puki mai. Sekarang katakan padaku, wahai semua kawan-kawanku, apakah aku harus menabrak pohon asam di pinggir jalan ini agar bisa memampuskan dua tua bangka ini? Atau, apakah aku harus menjatuhkan mobil ini ke jurang (tentu aku bisa dengan mudah menyelamatkan diri sebelum mobil ini benar-benar terjun bebas ke jurang) sehingga mereka hanya tinggal nama? Ayo, beri aku jalan keluar, Kawan-kawan.


Kudengar atasanku memanggil namaku, kusahut ‘Iya, Bapa’, dan ia berkata, “Kau tentu kenal orang-orang itu. paling tidak, kautahu langkah apa yang bisa kita ambil agar mereka tidak lagi menghalangi segala aktivitas kita.”


“Bapa,” balasku dengan sangat santun. “Tadi aku sempat bertemu mereka. Mereka sedang menunggu pendandatanganan KTP. Terus terang, aku sangat setuju dengan keputusan Bapa. Biar mereka tahu rasa dan sadar diri.”


“Jadi kau setuju dengan tindakan yang kulakukan ini?”


“Sangat setuju, Bapa. Orang-orang kita ini akan selalu kepala batu jika tidak diberi hukuman seperti ini. Apalagi mereka orang kampung, tidak tahu perkembangan. Dihasut sedikit saja, mereka langsung ikut. Kalau Bapa sudah buat begini, mereka akan pikir panjang untuk menghalangi usaha Bapa,” kataku dengan lancar dan sopan.


Sang tamu tertawa dan menepuk-nepuk pundakku. Dia sepertinya bahagia karena sudah menemukan jalan keluar dari masalah yang selama ini mengganggu pikirannya. “Tapi apapun yang terjadi, operasi ini harus kembali berjalan,” katanya.


“Tenang, Senator. Pasti berjalan kembali,” balas atasanku.


*****


Untuk sampai ke, mari kita sebut saja nama tempat itu adalah ‘Kampung Marmer’, butuh waktu sekitar satu setengah jam. Sebagian jalan begitu buruk, karena mungkin selama hampir setahun dilalui oleh kendaraan-kendaraan berat. Di Kampung Marmer, sekitar 20 orang telah menanti, duduk kelelahan di bawah naungan sebuah terpal buruk. Mereka menyambut kami dengan sapaan juga nyanyian adat, mengalungkan kami selendang adat, dan kami begitu dimuliakan.


Selama pertemuan berlangsung, aku berjalan ke luar tenda, menjauh sepelemparan batu, lalu merokok. Kautahu apa pendapatku tentang pertemuan ini? Baiklah, kalau kau ingin aku berkata jujur. Dengarkan baik-baik: semua orang yang mengikuti pertemuan ini adalah orang bodoh. Manusia-manusia berpakaian adat itu sama bodohnya dengan dua tua bangka itu, karena mereka berkomplot untuk menjual batu-batu indah mereka. Dengan pertemuan ini, aku justru merasa kasihan kepada warga yang menanti-nanti di kantor kami. Walau aku tak berbaris di belakang mereka, tapi aku salut dengan keberanian mereka selama ini.


Dalam perjalanan pulang, saat melewati jalan-jalan buruk itu, atasanku berkata, “Sekarang tinggal para perusuh itu. Para tua adat dan kepala desa sudah sepakat operasi ini akan berjalan kembali. Nanti Pak Senator cukup mengatur ala kadarnya. Sedikit bantuan dari pusat juga sudah lumayan.”


“Izin bertanya, Bapak Senator,” kataku gugup, “Perusahan yang beroperasi selama ini milik Bapak?”


Lama tak ada suara. Kemudian keduanya tertawa.


“Kau tidak boleh menceritakannya kepada yang lain,” tegur atasanku. “Kini kau punya tugas baru. Besok, bertemulah dengan para perusuh itu. Mereka pasti datang lagi ke kantor. Bilang pada mereka, surat-surat mereka sudah saya siapkan. Mereka boleh mengambilnya, jika mereka tak berulah lagi. Pokoknya kau aturlah supaya tak ada persoalan lagi.”


“Siap, Bapa,” kataku dengan tegas.


Esok hari, kutemui para warga itu. Mereka masih menunggu. Kami berbincang sejenak, dan dari raut wajah kutahu mereka sudah sangat kelelahan. Aku begitu simpati dengan mereka, tapi, siapakah aku ini sehingga bisa mengubah takdir?


Akhirnya, kukatakan bahwa aku bisa membantu mereka agar surat-surat mereka ditandatangai oleh atasanku. Dengan syarat, mereka tidak boleh berulah kembali. Mereka mengangguk.


“Satu lagi,” kataku dengan pelan seperti berbisik, “Masing-masing dari kamu harus beri uang 200 ribu kepadaku. Dengan uang itu, aku percaya urusan ini akan selesai dengan sangat cepat!”


*****


SoE, 18 Agustus 2021