Ditulis oleh Kopong Bunga Lamawuran pada 17 Dec 2025, 14:38
Judul: Pendidikan Dicengkeram Fiksi Kapitalisme
Penulis: Kopong Bunga Lamawuran
Penerbit: Penerbit KODA
Kategori: Non-Fiksi
Tahun Terbit: 2026
Tebal: xviii+352 hlm.
Ukuran: 13x19 cm
Harga: 150.000
Buku berjudul "Pendidikan Dicengkeram Fiksi Kapitalisme" karya Kopong Bunga Lamawuran ini terdiri dari empat bagian besar. Bagian-bagian itu sebagai berikut:
BAGIAN 1
PENDIDIKAN, KAPITALISME, DAN FIKSI
Bagian pertama membuka fondasi pemikiran buku ini dengan mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap wajar: apa itu pendidikan, dan untuk kepentingan siapa ia dijalankan. Penulis membedakan pendidikan sebagai proses alamiah manusia dengan sekolah sebagai institusi modern. Di titik ini, pendidikan tidak dipahami sebagai ruang netral, melainkan sebagai produk sejarah dan ideologi.
Dengan menggunakan konsep fiksi intersubjektif, penulis menunjukkan bahwa banyak tatanan sosial—termasuk kapitalisme dan sistem pendidikan—berdiri di atas cerita-cerita yang dipercayai bersama. Sekolah dipertahankan bukan karena ia selalu memanusiakan, tetapi karena ia menopang sebuah sistem kepercayaan tentang kesuksesan, kompetisi, dan produktivitas.
Bagian ini menegaskan bahwa kapitalisme membutuhkan fiksi agar dapat bertahan, dan pendidikan menjadi salah satu medium paling efektif untuk menanamkan fiksi tersebut sejak dini. Di sinilah pendidikan mulai kehilangan dimensi pembebasannya dan berubah menjadi alat reproduksi sistem.
BAGIAN 2
SEJARAH PENDIDIKAN INDONESIA SEBAGAI ALAT KOLONIALISME DAN KAPITALISME
Pada bagian ini, penulis membawa pembaca menelusuri sejarah pendidikan formal di Indonesia, sejak masa kolonial hingga pasca-kemerdekaan. Sekolah diperlihatkan bukan sebagai hadiah peradaban, melainkan sebagai instrumen kekuasaan. Portugis, Belanda, hingga Jepang menggunakan pendidikan untuk kepentingan agama, administrasi, dan propaganda politik.
Sejarah ini menunjukkan bahwa pendidikan sejak awal tidak dirancang untuk membangkitkan kesadaran pribumi, tetapi untuk mencetak tenaga kerja yang patuh dan berguna bagi penguasa. Pola tersebut, menurut penulis, tidak benar-benar berubah setelah kemerdekaan—hanya tuannya yang berganti.
Kapitalisme modern melanjutkan fungsi kolonial pendidikan dengan cara yang lebih halus. Sekolah tetap berperan sebagai aparatus ideologis yang menyiapkan manusia agar cocok dengan sistem ekonomi yang ada, bukan untuk mempertanyakan atau melampauinya. Bagian ini menegaskan bahwa DNA pendidikan Indonesia sejak awal memang tidak netral.
BAGIAN 3
PENDIDIKAN SEBAGAI FIKSI KAPITALISME
Bagian ketiga merupakan inti kritik buku ini. Penulis membedah secara rinci fiksi-fiksi kapitalisme yang ditanamkan melalui sekolah: “sekolah = sukses”, kompetisi, produktivitas, pertumbuhan tanpa batas, dan sekolah sebagai ruang aman. Fiksi-fiksi ini bekerja bukan melalui paksaan, tetapi melalui harapan dan ketakutan.
Sekolah digambarkan sebagai tempat pertama di mana manusia belajar membandingkan diri, merasa kurang, dan berlomba menjadi “yang terbaik”. Nilai, peringkat, dan gelar menjadi simbol keberhasilan, sementara kegagalan dipersonalisasi sebagai kesalahan individu, bukan sebagai persoalan sistemik.
Bagian ini menunjukkan bagaimana pendidikan modern menghasilkan manusia yang cemas, terasing dari dirinya, dan terikat pada identitas-identitas sempit. Pendidikan tidak lagi membangun kesadaran, tetapi memproduksi subjek yang siap masuk ke pasar kerja dan menerima logika kapitalisme sebagai sesuatu yang alamiah.
BAGIAN 4
BELAJAR MENJADI KEHIDUPAN
Bagian terakhir bergerak melampaui kritik menuju perenungan yang lebih eksistensial dan spiritual. Penulis mengajak pembaca mempertanyakan ulang identitas, tujuan hidup, dan makna belajar. Pendidikan, dalam pandangan ini, tidak lagi diarahkan untuk “memiliki” atau “menjadi sesuatu”, melainkan untuk menjadi kehidupan itu sendiri.
Konsep identitas, karma, Gelekat Lewo, dan Menjadi–Melakukan–Memiliki dibahas sebagai alternatif cara hidup di luar logika kapitalisme. Pendidikan dipahami sebagai proses memperluas kesadaran, mencairkan identitas, dan membebaskan manusia dari keterikatan psikologis terhadap sistem.
Bagian ini menutup buku dengan sebuah ajakan: mengembalikan pendidikan pada hakikat terdalamnya—sebagai jalan kesadaran. Bukan sekadar untuk bertahan hidup di dalam sistem, tetapi untuk memahami kehidupan secara utuh, jernih, dan bertanggung jawab.
#KopongBungaLamawuran #PendidikanDicengkeramFiksiKapitalisme #penerbitcvkoda #pendidikanindonesia